MALUKU UTARA,detiknusa.com – Kontroversi yang muncul akibat keputusan wasit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepak bola. Perdebatan mengenai kepemimpinan pertandingan dapat terjadi di berbagai level kompetisi, namun keputusan akhir tetap berada di tangan wasit sebagai pemegang otoritas tertinggi di lapangan.
Pandangan tersebut disampaikan pengamat sepak bola Maluku Utara, Safri Kamaria, yang menilai hasil pertandingan tidak dapat dibatalkan hanya karena perdebatan atau opini yang berkembang di media sosial.
“Kontroversi itu lumrah dalam sepak bola. Namun, pada akhirnya keputusan tertinggi ada di tangan wasit utama dan harus diterima. Perdebatan sekuat apa pun tidak bisa dengan mudah membatalkan kemenangan sebuah tim karena semua ada tahapan dan prosedurnya,” kata Safri, Kamis (16/7/2026).
Menurut Safri, sepak bola harus dipandang dengan mengedepankan sportivitas dan profesionalisme. Menang maupun kalah merupakan konsekuensi dari sebuah pertandingan yang harus diterima secara dewasa.
“Kalau mental sportif, kalah dan menang adalah hal biasa. Perdebatan yang ramai di media sosial sering kali hanya dipenuhi emosi dan kurang memahami aspek teknis dalam sepak bola,” ujarnya.
Safri menjelaskan, kontroversi lebih sering muncul karena keputusan wasit yang bersifat interpretatif, bukan karena tindakan pemain semata. Penilaian publik terhadap wasit yang dianggap tidak adil atau tidak konsisten merupakan hal yang lazim terjadi dalam olahraga tersebut.
“Wasit bisa saja dinilai tidak adil atau tidak konsisten. Itu memang fakta yang sering muncul dalam sepak bola. Tetapi keputusan tertinggi tetap berada pada wasit utama. Penilaian adil atau tidak adil merupakan wilayah interpretasi yang kemudian memunculkan kontroversi,” katanya.
Ia menambahkan, penyelenggara kompetisi tidak dapat menjadikan opini penonton sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam setiap turnamen resmi, keputusan hanya mengacu pada interpretasi perangkat pertandingan sesuai Laws of the Game yang berlaku.
“Suatu turnamen tidak bisa menggunakan interpretasi penonton untuk mengambil keputusan. Yang menjadi dasar adalah interpretasi wasit sesuai regulasi pertandingan. Karena sifatnya interpretatif, keputusan itu sering memunculkan kontroversi, dan itu sudah menjadi bagian dari sepak bola,” tutur Safri.
Safri Kamaria bukan sosok baru di dunia sepak bola Maluku Utara. Ia pernah menjabat sebagai pengurus PSSI Kota Ternate, manajer Tim Sepak Bola Kota Ternate pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IV Maluku Utara, serta Direktur Teknik Persiter B pada ajang pra musim Liga 3 PSSI Wilayah Timur yang berlangsung di Kabupaten Halmahera Selatan.
Berbekal pengalaman tersebut, Safri berharap seluruh elemen sepak bola, baik pemain, pelatih, ofisial maupun suporter, dapat menghormati keputusan perangkat pertandingan dan mengedepankan sportivitas agar sepak bola tetap menjadi olahraga yang menjunjung tinggi nilai fair play. (dic)












